- Buletin Jum'at
- Majalah Mini Bulanan
- Penerbitan Buku
- CD dan DVD Da'wah
Majalah Al Aziz
Konsultasi Syariah
Pertanyaan I
Ustadz…..apa hukumnya jika seorang wanita berteman dengan seorang lelaki pemabuk dengan bertujuan untuk memperbaikinya?. (dari sdr Hasan di Sragen)
Jawaban:
Saudara Hasan di Sragen, yang saya hormati, berteman dengan siapapun diperbolehkan, selagi dengan pertemanan itu kita tetap bisa mempertahankan keimaman dan akhlak kita. Dengan pertemanan kita bisa mendakwahi orang, dan dengan pertemanan itupula kita bisa disesatkan orang. Apabila dengan persahabatan itu kita bisa mendakwahi/memperbiki, maka silahkan persahabatan itu dilanjutkan. Namun, jika ada kemungkinan justru kitalah yang akan terseret terbawa arus, maka baiknya kita menghindar.
Mungkin ada baiknya kita mengikuti nasehat tulisan dibelakang truk “utamakan selamat”. Tatkala ada bus dari arah berlawanan berusaha untuk mendahului bus lain dan sampai mengambil jatah jalan motor kita, mestinya ada benarnya kalau kita tetap berjalan pada posisi kita dan tidak perlu turun dari aspal. Tapi…
Imam Al Wahidiy menuturkan, pada zaman Rasululllah saw, ada Uqbah bin Abi Ma’ith yang sering duduk bersama Rasulullah saw. Setiap kali pulang dari bepergian ia membuat jamuan makan dan mengundang para pemuka kaumnya. Suatu ketika Rasulullah saw ikut menghadiri jamuan makan tersebut, dan beliau saw menolak makan sebelum Uqbah melafalkan syahadat. Maka, Uqbah pun membaca syahadat, kemudian Rasulullah saw mulai menikmati hidangannya. Tatkala Ubay bin Kholaf mendengar kabar syahadatnya Uqbah, ia mengatakan: “saya tidak akan rela padamu sebelum engkau mendatangi Muhammad (saw) dan meludahi wajahnya”. Ternyata Uqbah meluluskan permintaan Ubay demi menjaga persahabatan antara keduanya. Maka turunkan ayat Al Qur’an:
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul." Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan Si Fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur'an ketika Al Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al Furqon: 27-29)
Nah, begitu kuatnya pengaruh persahabatan ini, sampai Imam Ali bin Abi Thalib berkata dalam sebuah syair:
“jika kamu ingin mengenal seseorang, maka jangan bertanya siapa dia,
namun tanyakan siapa sahabatnya, karena sahabat pasti meniru teman akrabnya”
Saudaraku, persahabatan adalah media dakwah yang paling canggih, terutama jika orang yang perlu didakwahi itu posisinya setara dengan kita atau dibawah kita. Dengan menanam jasa dan cinta maka dakwah akan ikut tertanam pula. Semoga Allah swt melindungi kita dari persahabatan yang berakibat buruk. Amin!.
Pertanyaan II
Ustadz, ana pernah membaca sebuah hadits bahwa Islam itu datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing pula maka beruntunglah orang-orang yang asing”. Maksud orang yang asing di sini yang bagaimana ya? Tolong ustadz jelaskan. (dari sdr. Aziz di Colomadu)
Jawaban:
Saudara Aziz di Colomadu, yang dimuliakan Allah swt, hadits yang saudara tanyakan tadi adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah dengan bunyi:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Terjemahan yang saudara tulis di atas sudah sesuai dengan bunyi arabnya. Kata “ghuraba” adalah bentuk jamak (plural) dara kata “ghorib” yang berarti asing. Sesuatu dianggap asing apabila ia berbeda dari kebanyakan atau mayoritas. Apabila mayoritas manusia berwarna kuning sedangkan saudara tetap berwarna hijau, maka saat itulah ada pemandangan yang asing atau berbeda.
Saudaraku, memahami makna hadits yang paling ideal adalah dengan penjelasan hadits pula. Artinya; dengan membaca riwayat hadits yang senada dan lebih luas. Dalam riwayat shahih Tirmidzi; Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ الدِّينَ بَدَأَ غَرِيبًا وَيَرْجِعُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي
“Sungguh Agama (Islam) itu datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing pula maka beruntunglah orang-orang yang asing, yaitu orang-orang yang datang setelahku, yang memperbaiki sunnahku yang telah dirusak oleh manusia”
Sahabat Abdullah bin Amr bercerita, saya bersama Rasululah saw dan saat itu terbitlah matahari, lalu beliau bersabda: “pada hari kiamat, akan datang kaum yang menghadap Allah swt, sedangkan cahaya mereka seperti cahaya matahari.” Abu Bakar bertanya: apakah mereka itu kami ya Rasulullah!?. Rasulullah saw menjawab: bukan, dan kalian memiliki banyak kebaikan… Rasulullah saw bersabda: beruntunglah orang-orang yang asing (sampai 3x). seorang sahabat bertanya: ya Rasululah!, siapakah orang-orang yang asing itu?. Nabi saw menjawab:
نَاسٌ صَالِحُونَ فِي نَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ
“orang-orang shaleh yang hidup bersama banyak manusia yang jahat; orang yang mendurhakainya lebih banyak dari pada orang yang mentaatinya” (HR. Ahmad)
Ada beberapa hadits yang senada dengan hadits di atas, yang memiliki pengertian hampir sama. Ketika seorang muslim yang taat dianggap asing karena berbeda dengan mayoritas, tentu agamanya (Islam) juga ikut dianggap asing. Bukankan pada mulanya, Islam yang didakwahkan Rasulullanh dan diikuti segelintir sahabat pernah dianggap aneh dan asing?. Karena beda dengan paham orang kafir Makkah kala itu.
Sekarang; apakah kaum muslimin yang konsisten dengan ajaran Islam saat ini sudah dianggap asing?. Semoga kita selalu dalam kebaikan dan mampu memperjuangkan kebaikan itu. Amiin!!.
Tidak ada komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.